Ringkasan: Indonesia memiliki 127 gunung api berstatus aktif, sekitar 13% dari total populasi gunung api aktif di dunia. Sebagian besar gunung ini bukan sekadar objek mitigasi bencana — banyak yang sudah jadi tujuan pendakian, geowisata, dan bahkan meraih status UNESCO Global Geopark, menjadikan jalur vulkanik Indonesia salah satu magnet wisata petualangan ekstrem yang paling padat di dunia.
Apa itu status “127 gunung api aktif” di Indonesia?

Indonesia tercatat memiliki 127 gunung api aktif dari total sekitar 500 gunung api yang ada di wilayahnya, menurut data Badan Geologi Kementerian ESDM. Angka itu setara 13% dari seluruh gunung api aktif di dunia, menjadikan Indonesia negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak secara global.
Dari 127 gunung tersebut, tidak semuanya dipantau dengan intensitas yang sama. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memantau sekitar 68–69 gunung api secara terus-menerus melalui puluhan pos pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia — angka persisnya bergerak dari waktu ke waktu seiring perubahan status gunung, sehingga pembaca disarankan mengecek data terkini di magma.esdm.go.id sebelum merencanakan perjalanan.
Mengapa Indonesia Punya Begitu Banyak Gunung Api Aktif?

Konsentrasi gunung api di Indonesia bukan kebetulan geografis. Wilayah Indonesia berada tepat di titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama — Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia — yang terus bergerak saling bertumbukan, menurut penjelasan resmi Kementerian ESDM. Proses subduksi atau penunjaman lempeng ini melelehkan batuan kerak bumi, dan lelehan yang lebih ringan itu bergerak naik ke permukaan lalu membentuk gunung api. Proses inilah yang membuat letusan terjadi secara periodik di sepanjang busur kepulauan Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Maluku Utara, hingga Sulawesi bagian utara dan Kepulauan Sangir Talaud.
Posisi ini membuat Indonesia berada di jalur “Ring of Fire” atau Cincin Api Pasifik — sabuk gunung api dan zona gempa yang mengelilingi Samudra Pasifik. Konsekuensinya dua arah: risiko bencana yang nyata bagi jutaan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan vulkanik, sekaligus lanskap geologi spektakuler yang jadi daya tarik wisata petualangan kelas dunia.
Dari Ancaman Bencana Jadi Magnet Wisata: Geopark UNESCO di Kawasan Vulkanik

Sejumlah kawasan gunung api di Indonesia sudah bertransformasi dari sekadar objek mitigasi bencana menjadi destinasi geowisata berstatus global. Hingga awal 2026, Indonesia tercatat memiliki sepuluh UNESCO Global Geopark, angka yang menempatkannya sebagai negara dengan jumlah geopark terbanyak ketiga di dunia — status ini bahkan dikonfirmasi ulang pada akhir April 2026 ketika tiga geopark Indonesia (Rinjani, Kaldera Toba, dan Ciletuh–Pelabuhanratu) meraih “Kartu Hijau” dari UNESCO, penilaian tertinggi yang menandakan pengelolaan berkelanjutan berjalan baik.
Beberapa contoh transformasi ini:
- Geopark Rinjani (Lombok, NTB) — ditetapkan UNESCO Global Geopark pada 2018, mencakup Taman Nasional Gunung Rinjani seluas 41.330 hektare. Rinjani, dengan ketinggian 3.726 mdpl, adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci, dan jalur pendakiannya menjadi salah satu rute paling diburu pendaki domestik maupun mancanegara.
- Geopark Ijen (Banyuwangi–Bondowoso, Jawa Timur) — terkenal dengan fenomena blue fire dan danau kawah paling asam di dunia, memiliki setidaknya 21 situs geologi serta menjadi habitat puluhan jenis flora dan fauna endemik.
- Geopark Kaldera Toba (Sumatera Utara) — terbentuk dari letusan supervulkan purba dan kini menaungi danau vulkanik terbesar di dunia.
- Geopark Belitong — masuk jaringan UNESCO pada 2021, dikenal dengan batuan granit raksasa peninggalan aktivitas gunung api purba bawah laut.
Riset akademik tentang pengembangan Geopark Kebumen mencatat bahwa status UNESCO pada satu kawasan geowisata bisa mendorong lonjakan kunjungan wisatawan hingga 300% serta membuka ribuan lapangan kerja baru — meski riset tersebut memodelkan proyeksi untuk kasus spesifik Kebumen, bukan generalisasi otomatis untuk semua geopark.
Status Aktivitas: Tidak Semua “Aktif” Berarti Siap Didaki

Penting dipahami: “gunung api aktif” adalah klasifikasi vulkanologis, bukan indikator keamanan untuk pendakian. PVMBG mengelompokkan status aktivitas gunung ke dalam empat level — Normal (I), Waspada (II), Siaga (III), dan Awas (IV) — dan status ini bisa berubah dalam hitungan hari.
Sebagai gambaran dinamika terkini, per pertengahan Desember 2025 tercatat tiga gunung berstatus Siaga (Level III): Gunung Merapi (DIY dan Jawa Tengah), Gunung Semeru (Jawa Timur), dan Gunung Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur), sementara 24 gunung lainnya berada di status Waspada (Level II). Kepala PVMBG Priatin Hadi Wijaya menyebut ada gunung-gunung yang masuk kategori “paling aktif” karena kerap mengalami erupsi atau peningkatan aktivitas, sehingga memerlukan pemantauan ketat sepanjang tahun.
Data ini menegaskan satu hal untuk pelaku wisata petualangan: status gunung api wajib dicek ulang mendekati tanggal keberangkatan, bukan hanya berdasarkan artikel atau reputasi umum. Sekitar 4,5 juta jiwa penduduk Indonesia bermukim dan beraktivitas di sekitar kawasan gunung api aktif, menurut data PVMBG — angka yang menggambarkan skala risiko sekaligus mengapa transparansi status real-time sangat krusial.
Cara Merencanakan Wisata Petualangan ke Kawasan Gunung Api Secara Bertanggung Jawab

- Cek status vulkanik terkini di magma.esdm.go.id sebelum memesan tiket atau logistik pendakian — status bisa berubah dari Waspada ke Siaga dalam waktu singkat.
- Pilih jalur resmi dan berizin, terutama di kawasan geopark UNESCO seperti Rinjani dan Ijen, yang memiliki pengelolaan jalur dan kuota pendaki demi keselamatan sekaligus konservasi.
- Perhatikan radius dan sektor bahaya yang direkomendasikan PVMBG untuk gunung berstatus Siaga atau Awas — radius ini berbeda-beda tergantung karakter letusan tiap gunung.
- Libatkan pemandu lokal — di banyak geopark, masyarakat lokal berperan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, dan penjaga aspek konservasi kawasan.
- Siapkan rencana evakuasi mandiri, khususnya untuk kawasan yang dilalui aliran sungai berhulu di gunung berstatus Siaga/Awas, karena berisiko banjir lahar saat hujan deras.
Baca Juga Liburan ke Universal Studios Japan, Cara Seru Menikmati Osaka dari Super Nintendo World
FAQ — Gunung Api Aktif dan Wisata Petualangan di Indonesia
Berapa jumlah gunung api aktif di Indonesia?
Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dari total sekitar 500 gunung api, atau sekitar 13% dari total gunung api aktif di dunia, menurut data Badan Geologi Kementerian ESDM.
Berapa gunung api yang dipantau langsung oleh PVMBG?
Sekitar 68–69 gunung api dipantau secara terus-menerus melalui puluhan pos pengamatan gunung api di seluruh Indonesia. Angka ini dapat berubah, sehingga sebaiknya dicek langsung di magma.esdm.go.id untuk data terbaru.
Gunung api mana yang paling populer untuk wisata petualangan?
Beberapa yang paling dikenal secara wisata sekaligus berstatus geopark UNESCO adalah Rinjani (Lombok), Ijen (Jawa Timur), dan kawasan Kaldera Toba (Sumatera Utara) — masing-masing punya karakter geologi dan jalur pendakian berbeda.
Apakah gunung api berstatus “aktif” aman untuk didaki?
Tidak selalu. “Aktif” adalah istilah vulkanologis untuk gunung yang masih menunjukkan aktivitas magmatik, bukan jaminan keamanan pendakian. Status operasional pendakian harus dicek terpisah, karena bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti level Waspada, Siaga, atau Awas dari PVMBG.
Sumber: Badan Geologi Kementerian ESDM, PVMBG (magma.esdm.go.id), UNESCO Indonesia, dan liputan media nasional (Antara, Kompas, Tempo, detikNews) per Agustus 2026. Data status vulkanik bersifat dinamis