Sebanyak 56,8% Gen Z disebut memiliki ketertarikan terhadap lifestyle vintage, sebuah angka yang menunjukkan bahwa sesuatu yang “jadul” justru punya tempat di tengah generasi digital. Mulai dari thrifting, kamera analog, vinyl, furnitur mid-century, sampai outfit Y2K, elemen masa lalu kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari anak muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, vintage bukan cuma soal nostalgia, tetapi juga tentang personal expression, sustainability, uniqueness, dan keinginan untuk menikmati sesuatu yang terasa lebih authentic.
followthebaldie – Gen Z tumbuh ketika teknologi berkembang super fast, tetapi menariknya sebagian dari mereka justru memiliki ketertarikan pada barang dan estetika dari masa sebelum mereka lahir. Angka 56,8% dapat menjadi gambaran menarik mengenai besarnya ketertarikan kelompok muda terhadap lifestyle vintage, meskipun interpretasinya harus mengikuti populasi dan metode survei yang menjadi sumber angka tersebut. Dari sini muncul satu pertanyaan: kenapa generasi yang sangat digital justru falling in love dengan sesuatu yang analog?
Jawabannya tidak sesederhana “karena vintage aesthetic”. Lifestyle vintage memberikan sesuatu yang cukup sulit ditemukan di era produksi massal dan algoritma, yaitu sense of individuality. Ketika hampir semua orang mendapatkan rekomendasi fashion, musik, dan interior dari platform yang sama, barang vintage bisa menjadi cara untuk terlihat dan merasa sedikit berbeda.
Lifestyle vintage sendiri memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar mengenakan pakaian secondhand. Tren ini dapat muncul melalui fashion, musik, kamera analog, kendaraan klasik, interior, furniture, buku, hingga kebiasaan mendengarkan vinyl. Basically, Gen Z tidak harus hidup seperti tahun 1970-an untuk menikmati elemen vintage dalam kehidupannya.
Salah satu bagian paling interesting dari tren vintage Gen Z adalah fenomena nostalgia terhadap masa yang sebenarnya tidak mereka alami sendiri. Seseorang yang lahir pada 2005, misalnya, tetap bisa menyukai outfit 1990-an, kamera film, musik 1980-an, atau dekorasi rumah mid-century. Nostalgia di sini tidak selalu berasal dari personal memory, tetapi dapat dibentuk melalui film, musik, foto keluarga, media sosial, dan pop culture.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep anemoia, yaitu nostalgia terhadap waktu atau tempat yang tidak pernah dialami seseorang secara langsung. Walaupun istilah tersebut lebih populer secara kultural daripada sebagai diagnosis psikologis formal, konsepnya cukup relate dengan cara Gen Z mengonsumsi budaya masa lalu. Mereka dapat merasa emotionally connected dengan sebuah era melalui aesthetic dan cerita yang diwariskan media.
Social media kemudian membuat proses rediscovery tersebut jauh lebih cepat. Pinterest, TikTok, Instagram, dan YouTube membuat arsip visual dari berbagai dekade menjadi accessible hanya dalam beberapa klik. Akibatnya, style yang dulunya membutuhkan puluhan tahun untuk “kembali” sekarang bisa mengalami revival dalam hitungan bulan.
Thrifting Mengubah Vintage Menjadi Lifestyle

Kalau membahas Gen Z dan vintage, thrifting almost impossible untuk dilewatkan. Membeli pakaian secondhand memberikan kesempatan menemukan item dengan desain yang berbeda dari produk fashion yang sedang beredar di retail mainstream. Ada excitement tersendiri ketika menemukan jaket, denim, handbag, atau graphic tee yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
Thrifting juga sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap circular fashion. Ellen MacArthur Foundation telah lama menyoroti pentingnya memperpanjang penggunaan produk dan mengembangkan model circular economy untuk mengurangi pola produksi dan konsumsi yang linear. Dalam konteks fashion, membeli kembali pakaian yang masih layak pakai menjadi salah satu praktik yang dapat memperpanjang masa penggunaan sebuah produk.
Namun, secondhand shopping tidak automatically membuat pola konsumsi menjadi sustainable. Kalau seseorang membeli puluhan pakaian hanya karena murah lalu jarang menggunakannya, problem overconsumption tetap ada. Jadi, spirit vintage yang lebih mindful justru muncul ketika seseorang membeli lebih intentional dan benar-benar menggunakan barang tersebut dalam jangka panjang.
Fashion vintage memungkinkan seseorang melakukan styling yang tidak selalu mengikuti formula dari satu brand atau satu season. Item dari berbagai era bisa di-mix dengan pakaian modern untuk menghasilkan personal style yang lebih distinctive. Misalnya, vintage leather jacket dapat dipadukan dengan basic tee dan sneakers modern tanpa harus terlihat seperti sedang memakai costume.
Hal ini relevant dengan budaya Gen Z yang sangat dekat dengan self-expression. Fashion bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi juga medium untuk mengomunikasikan identity, taste, dan community. Satu orang mungkin memilih Y2K, sementara lainnya lebih suka 1970s bohemian, 1990s minimalism, atau old-money inspired pieces.
Menariknya, microtrend di media sosial membuat referensi vintage semakin fragmented. Tidak ada lagi satu aesthetic yang harus diikuti semua orang dalam waktu bersamaan. Gen Z bisa mengambil elemen dari beberapa dekade sekaligus dan melakukan remix sesuai personal taste mereka.
Y2K Membuktikan Tren Fashion Selalu Berputar
Kembalinya Y2K menjadi contoh paling obvious bagaimana masa lalu bisa kembali terasa relevant. Baby tee, baggy jeans, cargo pants, mini bag, tinted sunglasses, sampai berbagai aksesori yang dulu dianggap outdated kembali muncul dalam contemporary fashion. Bagi generasi yang mengalaminya pertama kali, tren tersebut mungkin terasa nostalgic, tetapi bagi Gen Z justru terasa fresh.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren fashion jarang benar-benar disappear. Siluet, warna, material, dan styling lama sering kembali setelah mengalami reinterpretation sesuai konteks generasi baru. Karena itu, apa yang hari ini disebut “jadul” bisa saja menjadi next big thing beberapa tahun mendatang.
Bedanya, trend cycle sekarang terasa jauh lebih cepat karena social media. Sebuah archival look dari selebritas atau runway puluhan tahun lalu bisa viral dan langsung direinterpretasikan oleh ribuan content creator. Fashion history akhirnya tidak lagi tersimpan di archive, tetapi terus hidup dalam digital culture.
Ketertarikan terhadap masa lalu juga terlihat dari penggunaan kamera digital lama, film camera, vinyl record, hingga perangkat dengan desain retro. Di tengah smartphone yang mampu menghasilkan foto sangat tajam dalam hitungan detik, foto grainy dan imperfect justru memiliki charm tersendiri. Imperfection tersebut memberikan karakter yang terkadang sulit diperoleh dari hasil digital yang terlalu polished.
Popularitas vinyl menjadi salah satu indikator menarik mengenai bertahannya format analog di era streaming. Recording Industry Association of America secara konsisten melaporkan vinyl sebagai bagian penting dari pendapatan musik fisik di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa pengalaman memegang media fisik tetap mempunyai market meskipun streaming jauh lebih convenient.
Ada ritual yang berbeda ketika mendengarkan vinyl dibandingkan memilih lagu dari smartphone. Pengguna perlu mengambil record, memasangnya, lalu menikmati musik dalam format yang relatif lebih intentional. For some people, inconvenience kecil tersebut justru menjadi bagian dari experience.
Vintage Interior Ikut Masuk ke Rumah Gen Z
Lifestyle vintage juga merambah ke interior dan dekorasi ruangan. Wooden furniture, lampu retro, floral pattern, poster lama, record player, hingga furniture secondhand mulai digunakan untuk menciptakan ruang dengan personality. Interior akhirnya tidak lagi harus terlihat perfectly matching seperti katalog furniture.
Platform seperti Pinterest dan TikTok membuat aesthetic seperti mid-century modern, retro eclectic, cottagecore, hingga 1970s interior kembali populer di kalangan pengguna muda. Alih-alih membeli satu set furniture yang sama, banyak orang lebih tertarik menggabungkan benda baru dengan thrifted atau preloved pieces. Hasilnya adalah ruang yang terasa collected over time, bukan instant.
Ada juga emotional value yang tidak selalu dapat diberikan barang baru. Kursi peninggalan keluarga, kamera milik orang tua, atau meja lama dari rumah kakek-nenek bisa memiliki cerita personal. In this case, vintage bukan hanya aesthetic, tetapi juga tentang memory dan connection.
Era Digital Membuat Barang Analog Terasa Lebih Special
Gen Z adalah generasi yang sangat familiar dengan kehidupan online. Komunikasi, hiburan, pekerjaan, belanja, bahkan hubungan sosial bisa terjadi melalui layar. Karena itu, physical objects dan aktivitas analog dapat menawarkan contrast terhadap kehidupan yang increasingly digital.
Membaca buku fisik, menulis jurnal, menggunakan kamera film, atau memainkan vinyl memberikan sensory experience yang berbeda. Ada tekstur, suara, proses, dan keterbatasan yang tidak selalu ditemukan dalam digital experience. Slow process tersebut bisa terasa refreshing ketika hampir semua teknologi modern dirancang untuk memberikan instant gratification.
Ini bukan berarti Gen Z ingin meninggalkan teknologi. Justru yang terjadi sering kali adalah hybrid lifestyle, ketika Spotify coexist dengan vinyl dan smartphone coexist dengan disposable camera. Mereka tidak memilih masa lalu atau masa depan secara absolut, tetapi mengambil bagian yang mereka sukai dari keduanya.
Ironically, salah satu alasan lifestyle vintage kembali populer adalah teknologi yang sangat modern. TikTok dan Instagram memungkinkan outfit, musik, dekorasi, dan benda dari puluhan tahun lalu ditemukan kembali oleh audiens baru. Satu video thrift haul saja dapat memperkenalkan brand atau style lama kepada jutaan orang.
Pinterest juga berfungsi seperti digital mood board yang menyatukan referensi dari berbagai era. Pengguna dapat mencari “90s bedroom”, “70s outfit”, “retro kitchen”, atau “vintage café aesthetic” dan mendapatkan ribuan visual dalam beberapa detik. Masa lalu akhirnya menjadi sebuah searchable archive yang sangat mudah diakses.
Namun, social media juga bisa mengubah vintage menjadi sekadar microtrend. Ketika sebuah aesthetic viral, konsumsi dapat meningkat dan kemudian ditinggalkan begitu tren berikutnya muncul. Karena itu, lifestyle vintage yang lebih sustainable seharusnya berangkat dari genuine appreciation, bukan sekadar fear of missing out.
Isu lingkungan turut membuat secondhand dan vintage semakin menarik bagi generasi muda. United Nations Environment Programme menyoroti besarnya dampak sektor tekstil terhadap lingkungan, mulai dari penggunaan sumber daya hingga limbah. Dalam konteks tersebut, memperpanjang umur pakaian dan mendukung circularity menjadi pembahasan yang semakin relevant.
Vintage menawarkan alternative terhadap pola beli-pakai-buang yang sering dikaitkan dengan konsumsi fashion berlebihan. Membeli produk yang sudah ada berarti memberikan additional life cycle kepada barang tersebut. Apalagi untuk produk berkualitas baik, sebuah item dapat berpindah tangan berkali-kali dan tetap digunakan selama bertahun-tahun.
Tetapi sustainability tetap bergantung pada behaviour. Membeli secondhand setiap minggu dalam jumlah berlebihan belum tentu menjadi mindful consumption. The most sustainable mindset adalah menggunakan apa yang dimiliki selama mungkin dan membeli berdasarkan kebutuhan serta genuine preference.
Vintage Memberikan Rasa “Authentic” di Era Algoritma
Salah satu paradox kehidupan digital adalah semakin banyak pilihan, semakin mudah semua orang mendapatkan rekomendasi yang sama. Algorithm dapat merekomendasikan lagu, fashion, café, travel destination, bahkan dekorasi rumah berdasarkan apa yang sedang populer. Akibatnya, banyak lifestyle mulai terasa surprisingly similar.
Vintage memberikan jalan keluar dari uniformity tersebut. Menemukan barang di flea market atau thrift shop memiliki unsur randomness yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi algoritma. Kamu tidak selalu tahu apa yang akan ditemukan, dan justru uncertainty tersebut membuat prosesnya exciting.
Barang vintage juga sering membawa tanda usia, mulai dari fading, patina, sampai detail produksi yang berbeda dari barang modern. Bagi sebagian orang, imperfections tersebut bukan kekurangan, melainkan character. In a world obsessed with perfect visuals, sesuatu yang imperfect dapat terasa surprisingly authentic.
Tren tertentu pasti akan datang dan pergi, termasuk Y2K atau micro-aesthetic yang sedang viral saat ini. Namun, ketertarikan terhadap masa lalu kemungkinan tidak akan hilang begitu saja karena manusia selalu melakukan reinterpretation terhadap budaya sebelumnya. Setiap generasi menemukan kembali fashion, musik, desain, dan kebiasaan lama melalui perspektifnya sendiri.
Yang mungkin berubah adalah era mana yang dianggap vintage. Barang dari awal 2000-an yang beberapa tahun lalu masih dianggap “biasa” kini sudah dipasarkan sebagai Y2K vintage. Dalam beberapa dekade mendatang, benda yang sekarang kita anggap contemporary pun bisa mendapatkan status nostalgic yang sama.
Karena itu, lifestyle vintage sebenarnya lebih besar daripada satu fashion trend. Ia merupakan siklus budaya tentang bagaimana generasi baru menemukan, memilih, dan memberikan makna baru terhadap masa lalu. Gen Z simply menjadi generasi terbaru yang melakukan proses tersebut dengan bantuan internet dan social media.
Angka 56,8% tentang ketertarikan Gen Z terhadap lifestyle vintage menarik karena menggambarkan bagaimana generasi digital dapat memiliki fascination yang kuat terhadap masa lalu. Namun, angka tersebut sebaiknya selalu dicantumkan bersama sumber, jumlah responden, lokasi, dan metodologi surveinya agar tidak digeneralisasi menjadi 56,8% dari seluruh Gen Z. Tanpa konteks sumber tersebut, angka ini lebih aman diperlakukan sebagai temuan dari survei tertentu.
Di balik angkanya, vintage lifestyle memang memiliki banyak karakteristik yang resonate dengan Gen Z. Personal expression, thrifting, sustainability, nostalgia, physical experience, dan keinginan memiliki sesuatu yang unique membuat barang lama mendapatkan new relevance. What is old can genuinely feel new ketika ditemukan oleh generasi yang berbeda.
Pada akhirnya, ketertarikan Gen Z terhadap vintage memperlihatkan bahwa modern lifestyle tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kamera analog bisa coexist dengan TikTok, vinyl dengan Spotify, dan thrifted jacket dengan sneakers terbaru. Maybe that is exactly the point: Gen Z tidak sekadar mengulang masa lalu, tetapi melakukan remix untuk menciptakan lifestyle versi mereka sendiri.
Referensi
- Catatan data 56,8%: Sumber survei primer perlu dicantumkan untuk memverifikasi populasi, jumlah responden, wilayah, pertanyaan survei, dan definisi “lifestyle vintage”. Angka ini tidak sebaiknya digeneralisasi sebagai persentase seluruh Gen Z tanpa informasi metodologi tersebut.
- Ellen MacArthur Foundation. A New Textiles Economy: Redesigning Fashion’s Future. Referensi mengenai circular economy, penggunaan kembali produk, dan transformasi sistem industri tekstil.
- United Nations Environment Programme (UNEP). Sustainability and Circularity in the Textile Value Chain. Referensi mengenai dampak lingkungan industri tekstil serta pentingnya circularity.
- Recording Industry Association of America (RIAA). Year-End Music Industry Revenue Reports. Data mengenai perkembangan pendapatan format musik fisik, termasuk vinyl, di Amerika Serikat.
- Pew Research Center. What We Know About Gen Z So Far. Referensi mengenai karakteristik dan konteks generasi Gen Z.
- McKinsey & Company. The State of Fashion. Laporan industri yang membahas perubahan perilaku konsumen, sustainability, resale, serta dinamika pasar fashion global.